Thursday, July 3, 2014

On 10:47 PM by Studio 3B Kedu   No comments
Permasalahan yang terdapat di Kecamatan Kedu yang akan dibahas pada laporan akhir ini                    adalah seluruh permasalahan ditinjau beberapa aspek antara lain sebagai berikut:

Fisik Dan Sumberdaya Alam

1.   Terjadinya Longsor di Desa Gondangwayang, Bojonegoro dan Desa Bandunggede
   Permasalahan dari aspek fisik dan sumber daya alam adalah bencana longsor di Desa Bojonegoro, yaitu sering ada longsor jika terjadi hujan lebat.(Hadi Purwanto, 2014 k/8/SDA)
     Pada peta keluaran Bappeda tahun 2011 berikut, diketahui Kecamatan Kedu memiliki potensi bahaya geologi berupa gerakan tanah di Desa Kutoanyar, Tegalsari, dan Desa Danurejo. Sedangkan, 11 desa lainnya tidak memiliki bahaya geologi gerakan tanah maupun bahaya geologi lainnya. Permasalahan dari aspek fisik dan sumber daya alam adalah bencana longsor di Desa Bojonegoro yaitu sering ada longsor jika terjadi hujan lebat. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi topografi ketiga desa tersebut berada pada kelas kelerengan 8-25% yang tergolong curam. Permasalahan tersebut juga didukung oleh litologi tanah berupa latosol coklat yang memiliki sifat yang remah dan rentan terhadap erosi.
2.    Serangan Hama Penyakit pada Tanaman Pangan
Permasalahan serangan hama penyakit pada tanaman pangan terjadi di Desa Karangtejo adalah hama tanaman yang sering menyerang pertanian warga, seperti hama wereng dan penyakit kuning yang menyerang padi sehingga menurunkan tingkat produksi dan kualitasnya. (Wawan, 2014 k/13/SDA) 
Sudah 3 tahun terakhir mengalami gagal panen karena serangan hama, termasuk tanaman jagung saat ini sepertinya kurang maksimal.(Talipun, 2014 P/13/SDA)
     Berbagai permasalahan yang dihadapi terkait sumber daya alam berbeda-beda pada setiap desa di Kecamatan Kedu, baik dalam sektor pertanian ataupun sektor industri. Permasalahan serangan hama penyakit pada tanaman pangan terjadi di Desa Karangtejo, Gondangwayang, Danurejo, dan Desa Salamsari adalah hama tanaman yang sering menyerang pertanian warga, seperti hama wereng dan penyakit kuning yang menyerang padi sehingga menurunkan tingkat produksi dan kualitasnya. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya gagal panen akibat serangan hama, termasuk tanaman jagung saat ini sepertinya kurang maksimal.

Populasi/Demografi

1. Rendahnya Tingkat Pendidikan Penduduk Kecamatan Kedu
    Berdasarkan piramida penduduk Kecamatan Kedu tahun 2012, jumlah penduduk di usia produktif yaitu 20-29 tahun dari penduduk berusia 15-19 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak penduduk yang memilih untuk bekerja di luar Kecamatan Kedu setelah tamat sekolah, sehingga kuantitas sumber daya manusia di Kecamatan Kedu berkurang. Selain itu, pendidikan terakhir penduduk di Kecamatan Kedu sebesar 49% adalah tamat Sekolah Dasar (SD). Hal tersebut menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Kedu akan pendidikan. Tingkat pendidikan suatu penduduk juga mempengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah.

Ekonomi

1.   Rendahnya Tingkat Pendapatan Penduduk.
     Tingkat pendapatan penduduk di Kecamatan Kedu yang rendah yaitu dari 100 responden 51% memiliki pendapatan sebesar  < Rp1.000.000,00/bulan. Tingkat pendapatan penduduk Kecamatan Kedu ini tergolong tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar penduduk jika mengacu pada regulasi penetapan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 sebesar Rp1.050.000,00/bulan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kantong-kantong kemiskinan di Kecamatan Kedu  dengan angka kemiskinan penduduk sebesar 16% sehingga dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk.  Pengeluaran pendapatan masyarakat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik dan air bersih dengan mayoritas pengeluaran sebesar < Rp50.000,00/bulan dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan rentang Rp11.000,00-Rp25.000,00/bulan.
2.   Buruknya Tataniaga, Ketidakpastian Harga Komoditas dan Ketergantungan Harga Jual Komoditas kepada Pihak Ketiga
Produksi tanaman padi di Kecamatan Kedu sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan, ketinggian, luas lahan, dan hama penyakit... (Parmi, 2014 P/11/Ek) 
LKM anggotanya masih sedikit karena dana pokok hanya Rp100.000.000,00 (Hambali, 2014 P/11/Org) 
“...Tidak ada kredit usaha rakyat, namun dari pihak Gapoktan mengaku ada kas bantuan dan urunan Rp50.000-Rp100.000/kelompok tani untuk membeli pupuk dan bibit.” (Parmi, 2014 P/11/Ek)
     Buruknya tataniaga komoditas unggulan diindikasikan oleh tata niaga tembakau di Kecamatan Kedu maupun di Kabupaten Temanggung yang masih menggunakan sistem monopsoni, yaitu penjual dengan jumlah banyak dengan jumlah pembeli yang sedikit. Hal ini dikarenakan produksi rokok kretek lebih sedikit dibandingkan dengan petani produsen tembakau. Terlebih, produksi tembakau pada dasarnya dipengaruhi oleh luas lahan dan jumlah tanaman yang ditaman per luasan tersebut. Pendapatan petani tembakau sangat dipengaruhi oleh harga tembakau per kilogramnya. Kondisi demikian membuat petani tembakau hidup dalam ketidakpastian harga terutama bagi petani yang memiliki lahan pertanaman tembakau yang sempit, modal terbatas, dan teknologi budidaya yang masih diterapkan masih sederhana. Selain itu, tidak adanya kebijakan pemerintah dalam mengatur harga tembakau serta rendahnya kemampuan tawar petani dalam menentukan harga produk akibat peran tengkulak-tengkulak rokok yang dominan dalam menentukkan harga menyebabkan petani tidak dapat mencukupi kebutuhan dasarnya (tingkat pendapatan rendah).
     Selain itu, akses permodalan yang terbatas sehingga petani kurang modal untuk dapat melakukan perawatan tanaman. Hal tersebut disebabkan karena tidak adanya kredit usaha rakyat di Kecamatan Kedu dan modal yang diberikan oleh pemerintah kepada kelompok-kelompok tani hanya sebesar 100 juta rupiah dan tidak mencukupi untuk kebutuhan bibit, pupuk, perawatan hingga pemanenan.
3.   Rendahnya Kualitas SDM dalam Mekanisme Pasar
Harga jual barang dari hasil industri tidak tahu. Barang diambil oleh pabrik, atau bisa juga dikirim melalui agen langsung ke pabrik. (Fatonah, 2014SI/1/R\Ek)
     Rendahnya kemampuan penduduk dalam melakukan proses olahan produk-produk pertanian seperti kopi, padi, dan tembakau dan industri pengolahan rajutan diindikasikan terjadi akibat adanya rendahnya kualitas SDM dalam mekanisme pasar. Kurangnya kemampuan tawar petani dan pengrajin akibat kurangnya modal dan jaringan pemasaran ini mengakibatkan daya saing produk yang dihasilkan rendah. Sebut saja seperti produk rajutan di Desa Danurejo dan kopi di Desa Bandunggede, potensi ekonomi strategis karena memiliki orientasi pemasaran terhadap ekspor tidak disadari oleh para petani dan pengrajin. Mereka cenderung memproduksi barang sesuai dengan permintaan pasar dan harga jualnya bergantung pada pihak ketiga. Hal tersebut pada akhirnya akan menurunkan kesejahteraan hidup penduduk di Kecamatan Kedu.

Infrastruktur dan Fasilitas

1.   Ketimpangan Pembangunan Infrastruktur Jalan antara kawasan pedesaan dan perkotaan
     Infrastruktur jalan di Kecamatan Kedu masih banyak jalan yang masih berupa makadam atau maupun jalan tanah, jalan yang beraspal hanya berada di jalan kolektor yang menghubungkan Kecamatan Temanggung dengan Kecamatan Parakan dan jalan jalan penghubung antar desa. Masih minimnya jalan yang beraspal disebabkan oleh pembangunan yang tidak merata di Kecamatan Kedu, sehingga menyebabkan ketimpangan antar desa di Kecamatan Kedu. Banyaknya jalan yang masih berupa makadam tadi tentunya akan menghambat aksesibilitas dan membuat ketidaknyamanan berkendara.
2.   Ketimpangan Pembangunan Fasilitas Pendidikan, Kesehatan dan Perdagangan antara kawasan pedesaan dan perkotaan
     Selain permasalahan jalan, masih minimnya berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan dan perdagangan menyebabkan Kecamatan Kedu tertinggal oleh dua kecamatan yang mengapitnya yaitu Kecamatan Temanggung dan Kecamatan Parakan. Persebaran fasilitas yang ada di Kecamatan Kedu pun tidak merata, semuanya terpusat hanya di Desa Kedu, sehingga hal ini dapat menimbulkan ketimpangan antar wilayah di Kecamatan Kedu sendiri. Kecamatan Kedu sendiri bahkan tidak memiliki terminal sama sekali, di Kecamatan Kedu hanya terdapat terminal bayangan dimana hanya sebagai tempat pemberhentian sementara. Tidak adanya terminal itu sendiri tentunya akan menimbulkan kerugian bagi Kecamatan Kedu, karena tidak adanya penghasilan tambahan untuk meningkatkan perekonomian di Kecamatan Kedu.
3.   Jaringan Drainase Alami yang Cepat Amblas
     Drainase di Kecamatan Kedu 70 % dalam kondisi lancar, 9 % dalam kondisi kering, dan 13 % dalam kondisi mampat. Untuk drainase yang ada di Kecamatan Kedu mayoritas berupa drainase alami berupa tanah dengan sistem terbuka di depan rumah penduduk yang hanya dilubangi membentuk saluran drainase. Drainase alami dapat membuat tanah lebih cepat amblas karena tidak terdapat pengerasan tanah sehingga air hujan langsung masuk ke dalam tanah. Drainase yang ada itupun merupakan swadaya penduduk yang sadar akan pentingnya drainase. Di beberapa titik yang ada di setiap desa di Kecamatan Kedu sudah terdapat drainase buatan, akan tetapi jumlahnya belum memadai
4.   Sistem Pengelolaan Persampahan Masih Tradisional
     Sistem persampahan yang ada pada 14 desa di Kecamatan Kedu berupa dibakar di dalam lubang baik pada saluran drainase yang masih alamiah maupun di belakang rumah penduduk. Sistem persampahan ini kurang sehat, meskipun hemat biaya. Karena sampah yang dibakar menghasilkan gas Karbondioksida yang dapat membahayakan kesehatan penduduk jika berada di sekitarnya.

Kelembagaan Penduduk Aspek Sosial

1.   Tidak Adanya Kebijakan Harga Komoditas Unggulan
 …Daun tembakau dijual dengan harga berkisar antara Rp 1500 - Rp 5000/kg ...Harga jualnya akan semakin tinggi jika daun tembakau yang telah dikeringkan dan dirajang yaitu sekitar Rp50.000-Rp150.000/kg P/11/Ek. (Parmi,  2014 P/11/Ek)
     Permasalahan yang terjadi dalam aspek kelembagaan diindikasi sebagai dasar permasalahan yang terjadi di Kecamatan Kedu. Hal ini diindikasikan berdasarkan fakta di lapangan bahwa tidak adanya kebijakan pemerintah terkait dengan pengaturan harga-harga komoditas unggulan di Kecamatan Kedu maupun di Kabupaten Temanggung. Lemahnya sistem management peran kelompok-kelompok tani dan tidak adanya regulasi pemerintah Kabupaten Temanggung terhadap nilai harga komoditas ini menyebabkan terjadinya kerugian bagi para petani dan industri pengolahan,hal tersebut dikarenakan berkurangnya nilai jual hasil produksi dan menyebabkan kurangnya daya saing produk dan kapasitas produksi di Kecamatan Kedu. Tidak adanya kebijakan harga komoditas ini juga diperparah oleh adanya sistem monopsoni terutama bagi komoditas tanaman tembakau dan kopi, dimana para petani di Kecamatan Kedu yang hanya memproduksi daun tembakau dengan harga jualnya hanya mencapai Rp1.500-Rp5.000/kg dan Rp13.000/kg lebih rendah jika dibandingkan harga jual daun tembakau yang telah dirajang sebesar Rp50.000-Rp150.000/kg.
2.   Tidak Adanya Promosi Pemerintah Terhadap Produk-Produk Unggulan
Industri tersebut memiliki keterkaitan dan ketergantungan antara pabrik. Apabila dari pabrik tidak memiliki pesanan kepada industri tersebut, maka dari industri juga tidak akan melakukan proses produksi. (Fatonah,  2014 SI/1/R)
     Kecamatan Kedu memiliki potensi produk-produk unggulan yang memiliki orientasi pemasaran ekspor, diantaranya produk kopi di Desa Bandunggede dan industri pengolahan rajutan di Desa Danurejo. Namun, tidak adanya promosi dan intervensi pemerintah menyebabkan produk-produk ini tidak dapat memiliki daya saing produk dan kapasitas produksi yang rendah dengan harga jual yang rendah.
On 9:26 PM by Studio 3B Kedu   No comments

Ekonomi

Karakteristik kegiatan perekonomian yang paling menonjol di Kecamatan Kedu adalah pada kegiatan pertanian, peternakan, dan industri. 

a.     PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi  di Kecamatan Kedu

Kondisi perekonomian di Kecamatan Kedu dapat direpresentasikan salah satunya melalui pertumbuhan ekonomi dan kontribusi sektor dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Kedu tahun 2007-2011. 
Tabel
PDRB Atas Dasar Harga Konstan Kecamatan Kedu Tahun 2007 – 2011 (Juta Rupiah)
Sumber: BPS Kabupaten Temanggung, 2013

Pada tahun 2007-2011 pertumbuhan ekonomi Kecamatan Kedu mengalami fluktuasi yang signifikan. Kondisi tersebut nampak pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 hingga mencapai 8 persen dari tahun 2008 yang hanya meningkat 2 persen, kemudian kembali menurun pada tahun 2010 dengan total pendapatan regional pada tahun 2009 sebanyak Rp 160,595.65 juta, dibandingkan dengan Kabupaten Temanggung yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang stabil rata-rata sebesar 4 persen. 
   

b.    Struktur dan Distribusi Sektor Ekonomi di Kecamatan Kedu


Struktur ekonomi Kecamatan Kedu pada tahun 2011 didominasi oleh sektor pertanian sebesar 32,47%. Struktur sektor pertanian di Kecamatan Kedu terbagi kedalam 5 kategori yaitu tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan hasil-hasilnya, kehutanan dan perikanan. Kategori tanaman bahan makanan mampu memberikan dukungan sebesar 79%, tanaman perkebunan rakyat memberikan dukungan sebesar 5%, peternakan dan hasil-hasilnya sebesar 14%, kehutanan dan perikanan masing-masing sebesar 0% dan 2% bagi struktur perekonomian terutama sektor pertanian di Kecamatan Kedu.
Perkembangan distribusi sektor ekonomi yang paling menonjol adalah sektor pertanian dan industri dengan proporsi masing-masing memberikan kontribusi sebesar 36% dan 24%.  
  





c.    Sektor Ekonomi Unggulan di Kecamatan Kedu

Sektor unggulan yang dimiliki oleh Kecamatan Kedu adalah sektor pertanian dan industri. 

               a) Sektor Pertanian

  Kecamatan Kedu memiliki karakteristik fisik alamiah dan demografi yang sangat mendukung adanya aktivitas dan produktivitas pertanian yang melimpah. Oleh karena itu, Kecamatan Kedu memiliki komoditas-komoditas unggulan yang dimanfaatkan penduduk untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Karakteristik komoditas pertanian di Kecamatan Kedu terbagi kedalam tiga musim tanam, yaitu musim tanam I Bulan Januari – April, Musim Tanam II yaitu Bulan Mei – Agustus, dan Musim Tanam III yaitu Bulan September – Desember.  
Peta disamping menunjukkan komoditas pertanian pada Musim Tanam I yaitu Bulan Januari – April. Pada Musim Tanam 1, Kecamatan Kedu memiliki karakteristik komoditas pertanian tanaman pangan dan sayuran. Tanaman pangan dan sayuran pada musim ini terdiri dari Brokoli, Padi, dan Jagung yang tersebar di seluruh desa di Kecamatan Kedu.

Peta disamping menunjukkan tingkat produksi tanaman padi di Kecamatan Kedu. Tanaman Padi merupakan jenis komoditas tanaman pangan yang ditanam diseluruh wilayah di Kecamatan Kedu. Hal tersebut juga dapat ditinjau berdasarkan hasil produksi padi tertinggi berada di Desa Kedu, Danurejo dan Desa Mojotengah yaitu sebesar 9%-13% dari total produksi sebanyak 11.712 ton dengan luas panen sebesar 1.832 Ha.

Berikut ini merupakan Diagram Rantai Nilai (Value Chain) Tanaman Padi 














Rantai nilai tanaman padi di Kecamatan Kedu menggambarkan alur nilai tambah dan proses produksi dalam menunjang kegiatan ekonomi penduduk di Kecamatan Kedu. Berdasarkan diagram diatas, maka dapat diketahui input produksi berupa benih/bibit diperoleh dari luar Kecamatan Kedu yaitu Kecamatan Parakan dan bantuan dari kelompok tani, kemudian proses produksi dilakukan dengan metode tumpang sari dan ditanam selama 4 – 6 bulan. Hasil produksi yang diperoleh petani rata-rata sebanyak 6-8 ton/tahun/petani.


Pada Musim Tanam II yaitu Bulan Mei-Agustus, Kecamatan Kedu memiliki karakteristik komoditas pertanian tanaman perkebunan, pangan dan sayuran. Tanaman perkebunan merupakan tanaman yang mayoritas ditanam di Kecamatan Kedu berupa tanaman tembakau, sementara tanaman sayuran yang ditanam adalah tanaman cabai dan tanaman pangan adalah tanaman jagung. 

Berikut ini merupakan Diagram Rantai Nilai (Value Chain) Tanaman Tembakau














Rantai nilai tanaman tembakau diatas menggambarkan nilai tambah dan proses produksi tanaman tembakau yang berlangsung di Kecamatan Kedu dan diluar Kecamatan Kedu berdasarkan hasil wawancara kepada para ahli (petani tembakau) di Kecamatan Kedu. Input produksi tanaman tembakau berupa bibit saprotan diperoleh petani tembakau dari industri saprotan di luar Kedu yaitu dari industri saprotan di Kecamatan Parakan. Kemudian para petani menlakukan proses penanaman hingga pemanenan selama tiga bulan yaitu Bulan Mei – Agustus.

Tembakau Temanggung memiliki beberapa varietas lokal menurut sebutan masyarakat setempat, yaitu
Tata niaga tembakau di Kecamatan Kedu maupun di Kabupaten Temanggung masih menggunakan sistem monopsoni, yaitu penjual dengan jumlah banyak dengan jumlah pembeli yang sedikit. Hal ini dikarenakan produksi rokok kretek lebih sedikit dibandingkan dengan petani produsesn tembakau. Terlebih, produksi tembakau pada dasarnya dipengaruhi oleh luas lahan dan jumlah tanaman yang ditanam per luasan tersebut.


Pada Musim Tanam III yaitu Bulan September-Desember, Kecamatan Kedu memiliki karakteristik komoditas pertanian yang lebih beragam disetiap desanya. Tanaman perkebunan merupakan tanaman yang mayoritas ditanam di Kecamatan Kedu berupa tanaman tembakau dan kopi, sementara tanaman sayuran yang ditanam adalah tanaman cabai dan tanaman pangan adalah tanaman jagung.


Peta disamping menunjukkan tingkat produksi kopi di Kecamatan Kedu. Berdasarkan karakteristik ketinggian tempat, maka di Kecamatan Kedu hanya mampu memproduksi kopi jenis robusta. Produksi kopi robusta di Kecamatan Kedu pada tahun 2012 tercatat sebanyak 138,97 Ton dengan luas lahan panen seluas 132 Ha, sehingga produktivitas Kopi di Kecamatan Kedu sebesar 0,95 Kw/Ha.

b)  Komoditas Peternakan dan Hasil-Hasilnya

     Selain sektor pertanian Kecamatan Kedu juga memiliki prospek pada sektor peternakan. Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya masyarakat yang memelihara hewan ternak mulai dari ternak besar sampai ternak unggas sebanyak 571 peternak.

            c)   Sektor Industri Pengolahan

     Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang memberikan kontribusi sebesar 22% dari total PDRB Kecamatan Kedu. Sektor tersebut juga didukung oleh tingginya partisipasi penduduk yang bermata pencaharian pada sektor industri pengolahan yang memberikan proporsi sebesar 20% dari 30.986 jiwa penduduk yang bekerja.

 Berdasarkan peta persebaran sentra industri diatas menunjukkan adanya aglomerasi sentra industri di kawasan perkotaan (Desa Danurejo, Kedu, Mergowati, dan Desa Kundisari). Hal ini diindikasikan karena adanya kemudahan aksesibilitas dan kelengkapan sarana dan prasarana. Sektor industri pengolahan di Kecamatan Kedu terbagi menjadi 3 jenis, yaitu industri besar dengan tenaga kerja >100 pekerja sebanyak 2 unit, industri sedang dengan tenaga kerja antara 20-99 pekerja sebanyak 1 unit, dan industri kecil dan rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja antara 1-19 pekerja sebanyak 1345 unit. Industri pengolahan merupakan salah satu sektor basis di Kecamatan Kedu. Hal ini juga didukung oleh keberadaan sejumlah sentra industri yang ditemui hampir di seluruh wilayah Kecamatan Kedu. Sentra industri yang paling banyak ditemui adalah sentra industri keranjang tembakau. Berikut ini merupakan diagram Rantai Nilai Keranjang Tembakau.
Berikut adalah diagram rantai nilai sentra industri rajutan di Kecamatan Kedu

d)   Tingkat Pendapatan Penduduk

  Berdasarkan diagram disamping, tingkat pendapatan penduduk Kecamatan Kedu tergolong rendah dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar penduduk jika mengacu pada regulasi penetapan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 sebesar Rp 1.050.000,00/bulan.


     Berdasarkan pada Peta O/D pekerjaan penduduk diatas maka dapat diketahui bahwa terjadi interaksi yang besar antara Kecamatan Kedu dengan kecamatan di sekitarnya. Interaksi terbesar terjadi antara Kecamatan Kedu dengan Kecamatan Temanggung, hal tersebut disebabkan karena adanya daya tarik Kecamatan Temanggung sebagai ibukota Kabupaten Temanggung dengan skala pelayanan PPW menyebabkan besarnya interaksi antar kecamatan. Selain itu, juga terjadi tingginya pola interaksi antar desa, terutama interaksi dengan desa-desa yang memiliki sifat perkotaan seperti Desa Kedu, Mojotengah, dan Desa Candimulya.

Berdasarkan pada Peta O/D pekerjaan penduduk diatas maka dapat diketahui bahwa terjadi interaksi yang besar antara Kecamatan Kedu dengan wilayah lain di luar Kabupaten Temanggung. Interaksi yang terjadi antara Kecamatan Kedu dengan 3 kabupaten di sekitar Kabupaten Temanggung terjadi karena adanya aktivitas perekonomian seperti distribusi hasil pertanian, pekerjaan penduduk dan sumber bahan baku untuk kegiatan pertanian dan industri pengolahan. 


 





On 9:22 PM by Studio 3B Kedu   1 comment

1.  Fisik Dan Sumberdaya Alam
     Kecamatan Kedu memiliki topografi yang relatif datar antara 0-8%, 8-15%, dan 15-25%.Kecamatan Kedu juga mempunyai persebaran produktivitas akuifer dengan sebaran luas dan mempunyai jenis tanah latosol coklat yang cocok digunakan untuk sektor pertanian.Pertanian yang menjadi potensi sumber daya alam berupa padi, padi dan kopi. Kondisi topografi yang tergolong datar berpotensi berbagai potensi seperti permukiman, pertanian dan perdagangan dan jasa.Jenis tanah latosol coklat juga menjadi potensi sebagai permukiman, pertanian dan perdagangan dan jasa yang di dukung oleh jenis air yaitu akuifer dengan persebaran luas mendukung munculnya potensi sumber daya alam seperti padi, kopi dan Tembakau.Sumber Daya Alam yang menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Temanggung yaitu Tembakau.

2.  Penggunaan Lahan
     Kecamatan Kedu mempunyai luas lahan sebesar 3.963 Ha dan sebagian besar dari lahan tersebut lahannya diperuntukkan sebagai lahan pertanian dan lahan perkebunan. Potensi penggunaan lahan yang dimiliki oleh Kecamatan Kedu dapat dilihat dari kelas kelerengannya. Kecamatan Kedu terdiri dari 3 kelas kelerengan, yaitu kelas kelerengan 0-8% yang hampir tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Kedu, kelas kelerengan 8-15% dan 15-25% yang terdapat di sisi timur dan barat Kecamatan Kedu. Persebaran kelerengan tersebut juga mempengaruhi jenis penggunaan lahan, terutama pada daerah-daerah perkotaan yang memiliki topografi datar 0-8% karena dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya yang berfungsi untuk lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman.
     Penggunaan lahan di Kecamatan Kedu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lahan sawah dan bukan lahan sawah. Karakteristik penggunaan lahan sawah diklasifikasi menjadi lahan sawah irigasi teknis, lahan sawah irigasi setengah teknis, lahan sawah irigasi sederhana PU, lahan sawah sederhana non PU, dan tadah hujan. Sementara penggunaan bukan lahan sawah diklasifikasi menjadi lahan untuk bangunan/pekarangan, tegal/ladang, kolam/empang, dan hutan negara. Mayoritas penggunaan lahan yang ada di Desa Danurejo, Candi Mulya, Kedu, Mojo Tengah, Mergowati, Karangtejo, Gondang Wayang, dan Bojonegoro yaitu lahan sawah irigasi teknis. Desa dengan mayoritas penggunaan lahan sawah irigasi setengah teknis yaitu pada Desa Salamsari, Tegalsari, Kundisari, Ngadimulyo, dan Bandunggede. Sedangkan mayoritas penggunaan lahan  di Desa Kutoanyar yaitu lahan sawah irigasi sederhana PU. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan lahan terutama di kawasan perkotaan berfungsi sebagai kawasan budidaya, yangdiperuntukkan sebagai lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman.

3.  Ekonomi
     a. Komoditas Tanaman Perkebunan dan Sayuran
   Hasil produksi komoditas perkebunan yang paling dominan di Kecamatan Kedu adalah produksi kopi dan tembakau sebesar 962,21 ton dan 813,60 ton, tepatnya di Desa Bandunggede sebanyak 166,84 ton dengan luas panen sebesar 23,11 Ha. Komoditas kopi selain memberikan sumbangan dari aspek konservasi lingkungan juga dapat memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi bagi petani. Produksi kopi robusta di Kecamatan Kedu pada tahun 2012 tercatat sebanyak 138,97 Ton dengan luas lahan panen seluas 132 Ha, sehingga produktivitas Kopi di Kecamatan Kedu sebesar 0,95 Kw/Ha. Komoditas kopi di Kecamatan Kedu mempunyai potensi untuk dikembangkan karena merupakan komoditas yang memiliki harga yang stabil.
    Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, hasil kopi kemudian diolah dalam bentuk sangrai mentah, sangrai matang, maupun dibiarkan mentah dengan harga yang bervariasi.Hasil produksi kopi biasa didistribusikan melalui tengkulak dari Kecamatan Ngadirejo untuk selanjutnya dipasarkan keluar Kabupaten Temanggung, salah satunya ke Kota Malang. Dari Kota Malang, distributor akan memberikan label/merk dan di pasarkan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dengan harga rata-rata Rp 13.000,00-Rp 16.000,00/kg.
        b. Peternakan
       Sektor peternakan menjadi salah satu sektor yang layak untuk diperhitungkan.Hal tersebut diindikasikan dengan banyaknya penduduk yang memelihara hewan ternak mulai dari ternak besar sampai ternak unggas sebanyak 571 peternak.Berdasarkan hasil pendataan PSPK di Kecamatan Kedu, ternak besar yang dibudidayakan khususnya sapi dan kerbau jumlahnya terbesar kedua se Kabupaten Temanggung tercatat sebanyak 5.291 ekor, kerbau 310 ekor.Ayam ras juga potensial dibudidayakan karena banyaknya jumlah ayam ras yang dipelihara sejumlah 80.030 ekor tersebar merata di semua desa.Selain itu, jenis ternak yang menjadi karakteristik Kecamatan Kedu adalah budidaya ayam cemani dan ayam kedu. Nilai ekonomis ayam kedu maupun ayam cemani sangat menguntungkan, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penghasilan penduduk.
    c. Industri Pengolahan
   Sektor industri pengolahan merupakan sektor yang memberikan kontribusi sebesar 22% dari total PDRB Kecamatan Kedu. Sektor tersebut juga didukung oleh tingginya partisipasi penduduk yang bermata pencaharian pada sektor industri pengolahan yang memberikan proporsi sebesar 20% dari 30.986 jiwa penduduk yang bekerja. Sektor industri pengolahan di Kecamatan Kedu terbagi menjadi 3 jenis, yaitu industri besar dengan tenaga kerja >100 pekerja sebanyak 2 unit, industri sedang dengan tenaga kerja antara 20-99 pekerja sebanyak 1 unit, dan industri kecil & rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja antara 1-19 pekerja sebanyak 1.345 unit. Jenis industri kecil & rumah tangga yang memiliki jumlah pekerja 2.597 jiwa ini yaitu industi rajutan, genteng, batu bata, emping melinjo, anyaman pelepah pisang, keranjang tembakau, gerabah tanah, dan industri sapu ijuk. Banyaknya jumlah industri kecil dan rumah tangga ini memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah.

4.    Infrastruktur dan Fasilitas
       a.   Jalan
       Kecamatan Kedu dilalui oleh jalan kolektor yang menghubungkan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Wonosobo, hal tersebut menjadi potensi bagi perkembangan Kecamatan Kedu. Mobilisasi barang dan jasa menjadi lebih mudah, distribusi hasil produksi baik pertanian yang selama ini masih dipasarkan dalam kecamatan maupun industri penduduk akan menjadi lebih mudah, selain itu dengan dilalui jalan kolektor maka mata pencaharian pada sektor transportasi meningkat.
       b.   Listrik
      Listrik merupakan kebutuhan pokok di era modernisasi ini. Listrik dibutuhkan untuk menunjang aktivitas yang dilakukan penduduk. Kecamatan Kedu memiliki satu buah Gardu Induk Listrik yang digunakan untuk penyediaan kebutuhan listrik untuk penduduk Kecamatan Kedu dan Kabupaten Temanggung. Gardu Induk (GI) yang terdapat di Kecamatan Kedu merupakan Gardu Induk Listrik tegangan tinggi yang dapat melayani kebutuhan listrik sehingga seluruh penduduk Kecamatan Kedu  sudah terlayani oleh jaringan listrik. Dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan penduduk akan listrik, hal tersebut dapat menjadi potensi pengembangan berupa industri besar maupun rumahan yang membutuhkan supply listrik besar, dengan begitu bukan hanya komoditas pertanian yang maju, namun sektor industri juga akan semakin berkembang.

5.  Kelembagaan Penduduk Aspek Sosial
    Kecamatan Kedu memiliki berbagai lembaga yang berada pada tingkat kecamatan, desa, maupun dusun. Lembaga-lembaga yang terdapat di Kecamatan Kedu berguna sebagai sarana penyalur aspirasi bagi penduduk ke pihak pemerintah, sarana meningkatkan mutu dan kualitas kehidupan penduduk, tempat berkumpul dan berinteraksinya penduduk, serta sebagai ajang bagi penduduk dalam mengembangkan keterampilan. Sehingga dengan adanya lembaga di Kecamatan Kedu dapat meningakatkan kualitas dan kesejahteraan penduduk karena terdapat wadah untuk menyalurkan aspirasi penduduk. Selain itu dengan adanya lembaga di Kecamatan Kedu dapat meningkatkan hubungan kekeluargaan dalam masyarakat karena adanya interaksi antar penduduk sehingga konflik dalam masyarakat dapat diminimalisir. Dengan adanya lembaga dapat mengasah ketrampilan penduduk dalam berorganisasi, selain itu dengan adanya pelatihan-pelatihan dalam lembaga seperti kelompok tani juga dapat memberikan pengetahuan dan meningkatkan ketrampilan penduduk.
  Organisasi/lembaga yang adadi Kecamatan Kedu dapat tetap eksis sampai sekarang karena organisasi/lembaga tersebut melakukan pembinaan dan regenerasi dengan baik. Salah satunya adalah yang dilakukan kelompok tani, yaitu bekerjasama dengan Dinas Pertanian dalam bentuk pelatihan mengenai pemberantasan hama yang dilakukan secara berkala tiap bulan untuk meningkatkan pemahaman petani tentang pengelolaan lahan pertanian guna meningkatkan kualitas panen. Keberadaan kelompok tani menjadi potensi tersendiri bagi Kecamatan Kedu, karena hasil pelatihan berkala maupun penyediaan bahan bantuan pertanian yang dilakukan menyokong aktivitas pertanian di Kecamatan Kedu yang dapat meningkatkan kualitas dan pengetahuan petani serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.